Hidup hanya punya dua tiga hari bercinta
lalu pohon gigih ini digantuni berates lebah dan bunga
Waktu malam bulan juni
jika acacia kembang dan layu
Sungai berdandan tasbih lampu-lampu dan mewangi karena perempuan-perempuan mandi
Jalan-jalan raya tiba-tiba melebar dan berikaluan sebagai salan-salon kecantikan
Titian bergantungan dan manic-manik cahaya melingkup air,
Dimana aku berlalu:
taman gaib berantuk dengan pelancung;
Orang-orang pergi ketempat berjanji dengan kebun-kebun dan jalan-jalan,
lapangan-lapangan luas dan buleverda
Karena mabuk kepayang lupa aku pada
lorong-lorong tua Nove Mesto
Yang dinding-dindingnya kelabu dan perkasa
sekarang punya kedaulatan sebuah mahligai.
Wahai malam acacia,
malam gunung dan kelembutan yang menggoda, jangan pergi,
Biarlah aku selamanya hauskan cinta dan kota Praha
Wahai jika berakhir malam bulan juni, singkat seperti cinta dan kenikmatan tubuh.
Wahai malam acacia, jangan berlalu, sebelum kutiti semua jembatan Praha; Tiada mencari siapapun, tidak kawan, tidak perempuan, tidak diriku sendiri;
Wahai malam yang punya jejak bakal tempuhan musim panas, Tiada kunjung pada kerinduanku bernafas dalam rambutmu Permata-permatamu telah merasuki dagu,
kuselami air sebagai seorang pemukat terkutuk:
Wahai dapat jugalah aku mengucapkan ,,sampai-lain-kali”
Wahai malam bulan juni, Jika tiada sempat kita lagi berjumpa, Hiruplah aku dalam pelukanmu, kekasihku yang malang.
By: VITEZLAV NEZVAL