Pasar Malam Balikpapan

Malam acacia

Hidup hanya punya dua tiga hari bercinta
lalu pohon gigih ini digantuni berates lebah dan bunga

Waktu malam bulan juni
jika acacia kembang dan layu
Sungai berdandan tasbih lampu-lampu dan mewangi karena perempuan-perempuan mandi
Jalan-jalan raya tiba-tiba melebar dan berikaluan sebagai salan-salon kecantikan
Titian bergantungan dan manic-manik cahaya melingkup air,
Dimana aku berlalu:
taman gaib berantuk dengan pelancung;
Orang-orang pergi ketempat berjanji dengan kebun-kebun dan jalan-jalan,
lapangan-lapangan luas dan buleverda
Karena mabuk kepayang lupa aku pada
lorong-lorong tua Nove Mesto
Yang dinding-dindingnya kelabu dan perkasa
sekarang punya kedaulatan sebuah mahligai.

Wahai malam acacia,
malam gunung dan kelembutan yang menggoda, jangan pergi,
Biarlah aku selamanya hauskan cinta dan kota Praha
Wahai jika berakhir malam bulan juni, singkat seperti cinta dan kenikmatan tubuh.
Wahai malam acacia, jangan berlalu, sebelum kutiti semua jembatan Praha; Tiada mencari siapapun, tidak kawan, tidak perempuan, tidak diriku sendiri;

Wahai malam yang punya jejak bakal tempuhan musim panas, Tiada kunjung pada kerinduanku bernafas dalam rambutmu Permata-permatamu telah merasuki dagu,
kuselami air sebagai seorang pemukat terkutuk:
Wahai dapat jugalah aku mengucapkan ,,sampai-lain-kali”
Wahai malam bulan juni, Jika tiada sempat kita lagi berjumpa, Hiruplah aku dalam pelukanmu, kekasihku yang malang.

By: VITEZLAV NEZVAL

Related Posts:

Cinta sampai mati

Petualang cinta? mungkinkah itu diriku? Tapi aku lebih suka dengan menyebutnya metaforlova, sebuah perjalanan cinta, dari satu masa ke masa lain dalam kehidupanku. Kali ini aku bertemu dengan seseorang yang sama sekali bukan tipe laki-laki yang masuk dalam kategori calon kekasih ku, dia adalah ketua salah satu gangster terkenal di Bandung, hehe re you sure? Baiklah… tak seorang pun percaya, di balik penampilannya yang rapi berkemeja, celana kain dengan sepatu mengkilat siapa sangka di sisi lain dia anak gangster… entah angin atau kerasukan apa justru aku menyukainya, jujur saja aku menyukai karena dandanan rapi jalinya itu, kalau ternyata dia sangat disegani karena pengaruh gangster nya itu, bagiku bonus positif. Lagi pula dia bukan tipe anak gank berandalan yang berdandan nyeleneh, tapi dia anak gank yang elegan… hahahaha… (tampak seperti pembenaran, hehe) saking elegannya, bisa bikin aku jatuh cinta. Berbanding terbalik dengan sosok gangster nya, Nad, demikian aku memanggilnya, adalah kekasihku yang paling romantis dan perhatian, bisa jadi, hampir 24 jam anak buahnya ditugaskan untuk memastikan kesalamatanku terlebih jika dia ada urusan pekerjaan di luar kota. Anak buahnya ada yang ditugaskan untuk mengantarku, menjaga kendaraanku, rumahku, dan segala hal yang aku butuhkan, kupikir kejadian ini hanya terjadi di film-film, tapi ini nyata terjadi dalam hidupku dan aku menyukainya… “sayang hari ini kamu mau dibawain apa” suara Nad di ujung telepon, “aku cuma pengen kamu cepat pulang” jawabku manja, satu minggu aku tak bertemu Nad, aku sangat merindukannya, “iya besok aku pulang, kangen kamu cantik” ujar Nad “iya aku juga kangen banget” ucapku. Nad adalah teman SMA dulu, saat SMA Nad terkenal sering dipanggil guru BP karena ulah bandelnya juga keanggotaannya dengan salah satu gangster sekolah, Nad siswa yang terkenal badung, ganteng sih dari dulu juga, tapi karena badungnya itu aku memilih menghindarinya. Aku dan Nad bertemu lagi setelah sekian tahun tak bertemu, saat acara Reuni sekolah enam bulan yang lalu, sama sekali tak menyangka Nad berubah drastis melebihi teman-teman lainya, dia telah menjadi laki-laki yang dewasa, bisnisnya sukses dan tambah ganteng. Aku sempat curi-curi pandang saat itu, rupanya Nad juga melakukan hal yang sama terhadapku, setelah acara itu Nad menghubungiku, aku mulai dekat, lebih mengenalnya dan aku mulai menyukai Nad, karena sikap lemah lembutnya, dan sangat memanjakan aku. Tak perlu waktu lama, Nad berhasil mencuri hatiku, sekarang aku mencintai Nad, ketua gangster yang ganteng, baik, sukses dan dia adalah kekasihku, aku bangga mencintainya. Seperti biasa pulang dari luar kota Nad menghujani ku dengan banyak hadiah, kebiasaan Nad ini sampai bikin iri sahabat-sahabatku, “Nad kalau sudah cinta sama perempuan pasti akan memanjakannya dan melakukan yang terbaik” ujar salah satu teman dekat Nad. “Dia itu gak mudah suka sama perempuan, tapi kamu benar-benar bisa meluluhkan Nad, Nad sangat mencintai kamu” lanjutnya, aku tak menyangkal, aku menyukai semua yang dilakukan Nad, tapi yang paling aku sukai dari Nad, perlakuannya yang hangat dan romantis itulah alasan aku jadi adiktif sama sosok Nad, setiap saat aku ingin selalu bersama Nad. Malam ini Nad mengunjungi rumahku, senang rasanya aku bisa bertemu Nad setelah satu minggu tak bertemu, “sayang, kok kurusan, gak ketemu satu minggu” candanya sambil mengacak rambutku “iya kurusan soalnya mikirin kamu aja” ujarku menimpali candaannya, rasa rinduku luluh. Ketika dua pasang mata menatap, dan merasakan menyentuh tubuhmu, aku nyaman bersama Nad, malam itu udara segar, angin berhembus halus, menyertai kebersamaan aku dan Nad, di taman belakang rumahku, kita bercerita banyak hal, selalu ada yang menarik dari cerita yang disampaikannya, dari urusan kerja sampai kegiatan Ganknya. Nad mengeluarkan kotak berwarna biru dari balik jaketnya, perlahan dia membuka kotak itu, “sayang, aku harap ini tidak membuatmu merasa tergesa-gesa, aku ingin kau jadi istriku” ujar Nad sambil meraih jemariku, aku menatap matanya yang memancarkan cinta. Aku tak percaya secepat ini Nad melakuknnya, bahkan Nad belum pernah berbicara lebih jauh tentang hubungan kita atau memberi tanda-tanda akan melamar ku malam ini, namun aku tak menemukan alasan untuk menolaknya, aku nyaman dan bahagia bersamanya. Nad memenuhi semua keinginanku dia layak mendapat jawaban “iya”, “gimana cantik, maukah menikah denganku” Nad berlutut memegang cincin indah, senyumnya melumpuhkan sendi-sendi, membuatku tak berkutik, bulir-bulir keringat dingin keluar dari pori keningku, aku termanggu lama, meresapi ucapannya, “apa ini tak terlalu cepat?” tanyaku. Hanya itu yang mampu aku katakan, “kenapa harus menunggu lama, kalau bisa sekarang” jawab Nad, aku menggangguk sepakat dengan kata-kata Nad, sekaligus aku mengangguk bersedia menjadi istrinya, “jadi?” Nad bertanya kembali, “iya sayang” jawabku. Nad berdiri, perlahan melingkarkan cincin itu di jemariku, Nad memandang wajahku, senyumnya, matanya aku bisa melihat kebahagiaannya, meski baru dua bulan kami berpacaran, aku tak ragu pada Nad, aku merasa tenang saat bersamanya, “aku sangat mencintaimu, terima kasih sayang mau menerima lamaranku.” Nad berkaca-kaca, membendung air matanya, menahanya agar tak berurai, “sejak aku menjadi kekasihmu, aku yakin kamu adalah belahan jiwaku, kamu perempuan luar biasa Karen, kamu bisa membuat aku tergila-gila” Nad meraih jemariku, meletakannya di dadanya, aku bisa merasakan irama detakan jantung Nad, “aku juga mencintai kamu Nad, sangat” jawabku tulus. Kubenamkan kepala di dada Nad, jari-jari nya mengusap halus rambutku, “asikkk, udah besok aja ya nikahnya” teriak seseorang dari balik pintu, aku kenal suara itu, ayah dan Ibuku keluar dari balik pintu, wajah ku merona merah, “ayah, Ibu dari tadi nguping ya? ujarku sedikit malu, tak lama berselang, dari taman yang temaram. Tiba-tiba muncul cahaya-cahaya lilin yang dibawa teman-teman Nad, mamanya Nad membawa cake berbentuk hati berwarna marun dengan tulisan “love Karen” di tengahnya, masih tak percaya semua ini, aku memandang Nad, aku yakin ini rencanya, Nad tersenyum “buat kamu sayang” bisiknya di telingaku. Nad telah mempersiapkan ini semua sebelumnya, malah ia sengaja tak bertemu dengan ku selama satu minggu, supaya rencananya tak sampai bocor, sejak Nad datang ke rumah rupanya mama dan papaku ikut dalam rencana Nad, teman-temannya sudah siap di taman, Begitu juga mama dan papa Nad yang telah ada di rumahku, aku benar-benar kecolongan, Nad berhasil membuatku kaget, malu sekaligus bahagia, itulah mengapa aku sangat mencintai Nad. Aku, Nad juga semua yang ada malam ini larut dalam kebahagian yang tak terperi, Ayahku memainkan biolanya khusus untuk aku dan Nad. Melodi melodi indah dari setiap petikannya menyiratkan kebahagiaanku dan Nad… aku memeluk tubuh Nad, tubuhnya yang hangat, tetes-tetes air menyentuh pipiku, Nad tak bisa menahan lagi air matanya, malam ini aku melihat Nad menangis, tangisan bahagia, malam yang indah, malam yang memberiku bahagia sempurna… Nad ingin segera melangsungkan acara pernikahan, “aku ingin setiap hari ditemani kamu” itu alasannya “apalagi aku sering ke luar kota, kalau udah nikah kamu kan bisa ikut, masa kamu ditinggal melulu, keenakan dong nanti anak-anak keseringan nemenin kamu” ujar Nad sabil tertawa. Selama Nad ada urusan keluar kota anak-anak buah ganknya itulah yang selalu diperintahkan menemaniku dan menjagaku, aku mengerti kekhawatiran Nad jadi aku setuju, satu bulan setelah acara lamaran, aku dan Nad berencana melangsungkan pernikahan, aku akan menjadi Nyonya Granadine, membayangkannya saja sudah membuat aku berbunga-bunga. Aku dan Nad antusias menyiapkan pernikahan, kami ingin hari itu merupakan sejarah terindah dalam hidup kami, akan lebih sempurna kalau semua rencana itu bisa diwujudkan sesuai konsep pernikahan kami, romantis, intim dan sakral. Kami memilih tempat di kawasan perbukitan Bandung, Prosesi yang digelar hari itu akan lebih romantis dengan suasana lembah hijau di pagi hari berpadu sejuknya udara. Malamnya Nad dan aku memastikan semuanya sudah siap, ruangan itu telah berhias serba putih, kain-kain berwarna mutiara membalut kursi-kursi, semerbak wangi mawar putih, lilly dan sedap malam menyeruak di seluruh ruangan, “semuanya sudah siap sayang” ujar Nad, tangan nya melingkar di bahuku “apa sudah sesuai keinginan sang putri?” lanjutnya bercanda. Aku tersenyum memandang ruangan itu, “iya sayang, semuanya sempurna” aku bersandar di bahu Nad, tak sabar ingin segera besok pagi, “tidur nyenyak ya, biar besok putri ku cantik” Nad mengantar sampai pintu kamarku, Nad menatapku lama, seolah tak ingin berpisah, tangannya hangat menyentuh pipiku, “aku mencintaimu.” Aku merasakan cinta yang dalam dari tatapan Nad, dia mencium keningku, “sampai besok pagi ya sayang, karena mulai besok kita akan selalu bersama selamanya” ucapnya penuh arti, aku memburu tubuhnya, memeluknya erat. Suasana hiruk pikuk di rumah ku terjadi sejak pagi buta, kesibukan terlihat di setiap sudut, sementara aku sendiri merasakan gugup di hari pernikahanku, aku pandangi cermin yang memantulkan wajahku, tahap demi tahap make up disapukan perias dengan luwes dan cekatan, hingga mereka memakaikan baju pengantin kebaya tile putih bertabur Swarovski, pilihan Nad. Aku terpesona sendiri melihatnya, aku yakin Nad akan senang melihat aku secantik ini, gugupku makin terasa sesekali aku melirik jam dinding, jantungku semakin keras berdetak, sesuai rencana iring-iringan pengantin perempuan telah sampai di tempat resepsi. Aku berjalan menuju ruang khusus pengantin, semua berdecak kagum memuji kecantikan ku, aku tersenyum, berbunga-bunga membayangkan Nad memakai baju senada denganku, dari luar terdengar suara MC mempersilahkan semua yang hadir untuk duduk, lima menit menuju acara. Nad dan keluarganya belum sampai ke tempat, gugupku makin menjadi “ini kan weekend, biasa Bandung macet” ujar Ibu mencoba menenangkan, aku memutar nomor Nad, hanya nada sambung tak ada jawaban, aku mencoba menghubungi nomor mama dan papanya tak ada jawaban. Terbersit firasat aneh dalam hatiku, aku hubungi teman Nad, “halo kalian dimana harusnya lima belas menit yang lalu sudah di sini”tanyaku khawatir, “iya Karen, aku masih di perjalanan, mungkin mama dan papa Nad agak terlambat” jawabnya “kenapa hanya kamu? Bukankah kamu harusnya bersama di mobil Nad” tanyaku semakin penasaran, jantungku berdetak tak karuan “iya, iya nanti aku jelaskan” kemudian telepon terputus, seribu tanya memenuhi kepalaku, bahkan Nad tidak menjawab teleponku, aku menyuruh ayah ibu dan yang lainnya untuk mencari tau. Aku merasakan ada sesuatu yang janggal, aku keluar dari ruangan, aku melihat wajah-wajah panik semua orang yang ada di sana, “ada apa ini” tanyaku pada temannya Nad yang baru datang, “kenapa Cuma kamu yang datang, Nad dimana” tanyaku dengan nada meninggi. Kerongkonganku tercekat seolah sesuatu menghalagi suaraku, semua memandangku, temannya terdiam menunduk, “mana Nad!” aku berteriak, “Nad bersama yang lain saat ini berada di rumah sakit” jawabnya perlahan, lalu menarik nafas panjang, mendengar kata-kata itu. Aku merasa ribuan batu menghujani tubuhku, lunglai, aku tak kuat lagi menopang tubuhku, aku roboh, ayah memburu tubuhku “kuat nak kuatkan” ujar ayah terisak, aku tak sadarkan diri, sayup terdengar isak tangis memecah seisi ruangan. Malam itu terakhir aku bertemu Nad, merasakan pelukannya, kehangatannya, kasih sayangnya, dan kata-kata cintanya yang terus terngiang dalam benakku, Nad meninggal dengan dua tusukan di dadanya, malam hari sepulangnya dari rumahku, entah siapa pelakunya dan motifnya. Hari ini, harusnya ruangan ini adalah tempat dimana kita akan mengucap janji indah pernikahan, bukan tempat dimana kau disemayamkan, terbujur kaku, aku bersimpuh di samping peti dimana Nad terlelap selamanya, kusandarkan kepalaku di samping kepalanya, aku belai wajahnya yang dingin dan kaku, “aku mencintai mu Nad, selamanya” bisiku lirih. Aku tak perdulikan siapapun yang mencoba menarik tubuhku, mencoba menjauhkan aku dari peti Nad, aku hanya ingin bersama Nad, membelainya, dan menemaninya… aku ingin menemani Nad terlelap bersama di sana, aku tak akan meninggalkan Nad.

Related Posts:

Menu warung makan ala francis

Ada orang yang beranggapan kalau makanan yang kita santap diberi nama Perancis, akan terasa lebih enak. Hal tersebut disebabkan antara lain karena anggapan bahwa semua makanan yang berbau Perancis bermutu tinggi. Perancisisasi juga membuat orang yang akan bersantap mempunyai citra yang kabur tentang apa sebenarnya yang ia mau santap. Misalnya: Filet mignon (secara harafiah artinya: irisan yang lembut) Pate de fois gras (liver paste) Chevalen (daging kuda) Monsieur de Veau (daging lembu muda, veal) Escargot d'France (bekicot, keong) dsb. Si Minah yang warungnya sering dikunjungi turis (backpackers) Perancis, tidak mau kalah. Dia pasang menu sebagai berikut: CHEF'S SPECIAL : Oucing Pete de Chine (Oseng Pete Cina) Chateau de Batavie (Soto Betawi) Saiyour de Lourdes (Sayur Lodeh) Roujaxe d'Oleque (Rujak Ulek) Café a la Tobruq (Kopi Tubruk) Cappuccino de Preangers (Bajigur) Naxis Geaux rain (Nasi Goreng) Manioc de Mer (singkong Rebus) Vouz vour que tans Noir (Bubur Ketan Item) And special today : Loun Tounqe Saiyour (Lontong Sayur) Hab Max Janoux Lufaz Bayaour = Habis Makan Jangan Lupa Bayar!

Related Posts:

Misteri pondok kayu

By: Eryani Widyastuti

Uir-uir-uir-uir-uir-uir…… Kriiikk….kriiik…kriiiik….. Uir-uir-uir-uir-uir-uir…… Kriiikk….kriiik…kriiiik….. Aku selalu mendengar orkestra serangga setiap malam dari rumah ini. Rumah mungil yang aku sebut dengan pondok kayu. Dibangun menggunakan bahan kayu-kayu hutan pilihan; hampir seluruh bagian rumah dan perabotnya terbuat dari kayu, kecuali beberapa hal seperti kaca jendela, pengunci pintu, dan kamar mandi. Selain karena keunikan bangunannya, aku membeli rumah ini beberapa waktu lalu, karena jatuh cinta kepada lingkungan sekitarnya yang asri. Rumah ini dibangun di atas bukit kecil di daerah pegunungan yang hanya tersentuh oleh modernitas kecil; yaitu jalan raya aspal halus, berkelok panjang menuju tempat wisata air terjun yang sangat populer di atas sana, dan beberapa tower pemancar perusahaan telekomunikasi. Karena berada di daerah pegunungan, tak heran jika lingkungan di sini dipenuhi dengan pepohonan, kebun-kebun sayur, areal persawahan, dan berbagai macam rerumputan liar yang berbunga indah. Jangan tanya tentang suhu udaranya. Dingin! Bahkan di siang hari, para penduduk di sini memakai pakaian berlengan panjang supaya badan mereka tetap hangat. “Kamu sudah gila ya, Fik? Kenapa kamu beli rumah di atas bukit itu?” Tanya Romi, sahabatku. “Memangnya kenapa sih, Rom? Untuk rumah seunik itu di lingkungan alam yang indah seperti itu, harganya termasuk murah, lho.” Kataku. “Iya, murah sih boleh. Tapi apa kamu tidak merasa seram? Rumah itu berdiri sendirian di atas bukit. Agak jauh dari rumah-rumah penduduk di sekitarnya. Lalu, rumah itu juga rumah tua yang sudah lama tidak ditinggali. Apakah kamu tidak merasa, situasi ini sama dengan situasi rumah di film-film horor?” Romi tetap ngotot. Aku tergelak. “Rom…Rom…. Makanya, jangan overdosis menonton film horor. Akhirnya kamu kehilangan akal sehatmu. Rumah sebagus itu kamu bilang horor! Justru karena dia sendirian di puncak bukit, makanya aku beli. Aku bisa mendapatkan ketenangan, sekaligus inspirasi. Udaranya dingin sejuk, airnya bening segar dan melimpah, pemandangannya indah, para penduduknya ramah…. Sebelah mana horornya? Hahahaha.” Romi menggeleng-geleng mendengar jawabanku. “Heeeh, dasar penulis! Aku tidak paham dengan cara berpikirmu!” Hehehehe. Aku masih suka tertawa sendiri mengingat percakapan waktu itu. Malam ini, adalah malam ketiga aku menginap di pondok kayu. Sejauh ini, aku sangat menikmati. Cuma…, ada sesuatu yang menggelitik. Kata-kata dari bapak tua yang kutemui saat jalan-jalan pagi tadi. “Adik yang tinggal di rumah kayu itu?” tanya Si Bapak Tua. Ia memikul dua ikat besar ranting-ranting kering yang dikumpulkan dari hutan. Aku tersenyum. “Iya, Pak. Betul. Nama saya Taufik.” Si Bapak Tua memandangku heran. “Oooh. Nama saya Kandar. Anak muda jaman sekarang pemberani, ya?” “Kenapa dengan rumah saya, Pak?” Pak Kandar tak henti-hentinya mengamati aku, sampai aku harus mengulangi pertanyaanku. “Ah, tidak apa-apa. Tapi, dulu, ceritanya, yang punya rumah itu adalah seorang laki-laki yang…aneh. Dia jarang sekali bergaul dengan orang-orang di sini. Kami cuma tahu, dia sering keluar masuk hutan-hutan kecil di sekitar sini bersama temannya. Eh, tahu-tahu, setahun kemudian, dia meninggal di dalam rumah.” Cerita Pak Kandar dengan nada bicara yang polos. “Kenapa meninggal? Kok, yang menjual rumah ini kemarin tidak bercerita begitu pada saya?” Pak Kandar menghela nafas. “Nah, dia itu kan ahli warisnya. Anaknya. Kalau dia cerita, rumah itu tidak mungkin ada yang mau membeli! Waktu meninggalnya juga tidak ada yang tahu, Dik. Sudah tiga hari meninggal, baru ada yang tahu. Kata keluarganya meninggal karena sakit. Tapi, ada yang bilang juga, dia meninggal digigit Damar Mabur. Darahnya dihisap sampai kering!” Bisiknya. “Damar Mabur itu apa?” Aku menelan ludah, membayangkan makhluk penghisap darah Drakula yang melegenda di luar negeri. “Saya tidak berani cerita banyak-banyak. Saya takut digigit juga nanti, kalau Damar Mabur tahu saya membicarakan dia. Sudah ya, Dik? Saya mau pulang.” Pak Kandar melangkah pergi begitu saja. Aaah! Kenapa harus ada cerita aneh seperti ini? Jadi terpikir terus! Membuatku tidak bisa istirahat tenang! Aku bangkit dari tempat tidur, menuju meja tulis yang menempel di dinding bawah jendela kamar, tempat di mana aku meletakkan kotak biolaku. Aku membukanya. Mengambil biolaku, lantas pergi ke teras rumah. Suasana sepi. Udara dingin. Langit sedang berawan malam ini. Hanya beberapa kerlip bintang saja yang nampak. Aku menghembuskan nafas dari mulut. Uap hangat keluar dari mulutku. Kemudian, aku meletakkan biolaku di pundak, dan mengapitnya dengan sisi samping kepala. Aku mulai memainkannya. Melodi lembut mengalun sendu dari gesekan biolaku. Aku senang memainkan lagu-lagu nasional yang kupelajari ketika sekolah dasar. Kuawali dengan Tanah Air, berlanjut ke Rayuan Pulau Kelapa, Desaku…Ah… kegundahan hatiku tadi terurai sejenak. Sungguh Maha Suci Allah yang telah menanamkan rasa keindahan bermusik dalam diri setiap manusia. Zlap! Silau! Spontan, aku memicingkan mata. Apa itu tadi? Ada selarik kilatan cahaya! Lewat dekat di depan mataku dengan cepat. Tidak begitu terang, tetapi cukup mengganggu mata. Aku memandang sekeliling. Sepi. Gelap. Tidak ada siapapun. Tidak ada sesuatu apapun. Tapi, dari mana asal cahaya itu tadi? Apakah aku salah lihat? Ah. Biarkan saja. Aku kembali memainkan biola. Zlap! A’udzubillahiminasyaithanirrajiiim…! Baru beberapa menit berlalu, kilatan cahaya itu lagi! Tengkukku terasa dingin mendadak. Maka, kuputuskan untuk masuk kembali ke dalam rumah. Aku terpikir tentang cerita Damar Mabur. Esok malamnya, aku pergi ke teras lagi. Memainkan biola. Dengan lagu-lagu yang sama. Tiba di lagu Desaku, kilatan cahaya itu mucul lagi! Selama empat malam berturut-turut aku memainkan biola di teras. Setiap tiba pada lagu Desaku, kilatan cahaya itu selalu muncul beberapa kali, kemudian menghilang di kegelapan malam. Apa ini?? Aku semakin penasaran. Selain melihat kilatan-kilatan cahaya, aku juga mulai mendengar ketukan-ketukan kecil di kaca jendela ruang tamu. Bila kusibakkan tirai jendela, maka suara itu tiba-tiba terhenti. Tidak ada siapapun. Tidak ada suatu apapun. Tapi, keingintahuanku melebihi rasa takutku. Mengabaikan kemungkinan darahku terhisap sampai kering, seperti cerita Pak Kandar. Aku pun memutuskan untuk menyelidiki fenomena misterius ini. Aku menelepon Mas Bintoro, yang dulu menjual pondok kayu ini kepadaku, untuk bertanya mengenai kilatan-kilatan cahaya yang kulihat dan suara ketukan-ketukan yang kudengar. Sebenarnya, hubungan kami tidak dekat, hanya sebatas urusan jual-beli rumah. Tapi, ia pasti lebih tahu cerita tentang pondok ini daripada diriku ataupun para penduduk desa. Biarlah, jika nanti Mas Bintoro tidak mempercayai apa yang kulihat, dan menertawakanku. “Kilatan… cahaya?? Benar kilatan cahaya, Mas Taufik?” “Iya, Mas Bin. Kapan-kapan kalau ada waktu, tolong mampir ke sini ya?” Tak perlu menunggu lama, esok malamnya, Mas Bintoro datang ke pondok menaiki mobil Jeep warna hijau tua. Ia adalah laki-laki berperawakan tinggi besar, seumuran denganku. Tak seperti penampilannya yang garang, Mas Bintoro sangat ramah. Seusai kuceritakan pengalamanku, Mas Bintoro meminta aku untuk memainkan biola di teras. Kali ini, langsung masuk pada lagu Desaku. Dan, kilatan cahaya itu mucul! Aku dan Mas Bintoro menahan suara dan gerakan berlebihan. Sesuai kesepakatan kami sebelumnya, aku tetap memainkan lagu Desaku secara berulang-ulang, sedangkan Mas Bintoro menangkap gerakan kilatan cahaya itu dengan handycam di tangannya. Ketika dirasa cukup, aku berhenti memainkan biola. Terakhir kali, kami melihat, kilatan cahaya itu menghilang dalam kegelapan pepohonan sebelah timur. Kami berdua memutuskan untuk menyimpan keinginan untuk mengikutinya. Sebab, bila terus dikejar, kami khawatir, cahaya itu enggan untuk muncul kembali di pondok. Jika itu terjadi, maka hilanglah kesempatan kami untuk menyeledikinya. Aku mempersilahkan Mas Bintoro untuk masuk ke dalam pondok. “Tidak ada kejadian-kejadian aneh belakangan ini?” Tanyanya. “Tidak ada, Mas. Hanya itu, ketukan-ketukan kecil di kaca jendela depan. Seperti yang saya ceritakan.” Kemudian, kami menonton video yang dibuat Mas Bintoro tadi di teras. Kami tidak menemukan apa-apa kecuali larikan-larikan cahaya dalam kegelapan malam. “Mirip kunang-kunang raksasa, ya, Mas?” Komentarku. “Hm. Iya. Tapi, pola geraknya berbeda dengan kunang-kunang. Lagipula, kunang-kunang tidak bisa bergerak secepat itu. Lihat dalam gerak lambat. Aku rasa ini lebih mirip dengan bola cahaya kekuningan. Lihat pendaran cahayanya. Kira-kira, sebesar kepalan tangan anak kecil. Hanya, ada makhluk apa di tengah cahaya itu? Sayang, video ini tidak bisa menangkap gambar lebih jelas.” Aku menggosok-gosok daguku. Makhluk apa ini? Hewan? Ataukah….. “Oya, Mas Fik. Ini buku agenda Ayah yang dulu saya temukan di rumah ini. Ayah saya juga mencatat hal yang sama dengan yang Mas Taufik alami. Kilatan cahaya…ketukan di kaca jendela…” Mas Bintoro menyerahkan sebuah buku agenda bersampul kulit coklat yang lusuh. Serpihan debunya menggelitik hidungku, membuatku bersin. “Kenapa Mas Bin tidak pernah menceritakan ini pada saya saat menjual rumah ini?” Tanyaku sambil menggosok-gosok hidung. “Maaf. Saya pikir, ini cuma imajinasi ayah saya. Mas Fik, ayah saya itu orangnya agak nyentrik. Beliau adalah pensiunan guru Biologi yang suka menyendiri. Dan terobsesi untuk menyelidiki hewan-hewan aneh. Mmmm… apa istilah dalam buku ayah saya… ada kok tulisannya.” Mas Bintoro mencoba mengingat-ingat. Begitu pula aku, berusaha menemukan istilah yang cocok dengan deskripsi Mas Bintoro dalam buku catatan lusuh ini. “Cryptozoology!” Kami berbicara hampir serempak. Mas Bintoro baru saja berhasil mengingatnya, dan aku baru saja menemukan keterangannya dalam buku ayah Mas Bintoro, secara tidak sengaja. Cryptozoology merupakan istilah yang diambil dari bahasa Yunani. Crypto berarti tersembunyi. Zoology berarti ilmu tentang binatang. “Apa ini ada hubungannya dengan Damar Mabur?” Tanyaku. Mas Bintoro mengernyitkan dahi. “Kok tahu tentang Damar Mabur?” “Ada penduduk sini yang cerita pada saya. Dan, mereka bilang, ayah Mas Bin meninggal di rumah ini gara-gara digigit oleh Damar Mabur.” Mas Bintoro menggeleng-gelengkan kepala. Wajahnya nampak prihatin. “Saya tidak tahu harus menjelaskan berapa kali kepada orang-orang itu, bahwa ayah saya meninggal di rumah sakit, karena penyakit jantung yang dideritanya. Bukan meninggal di rumah ini. Bukan pula karena digigit Damar Mabur. Itu rumor. Saya rasa, ada yang tidak suka pada ayah saya, lalu menyebarkan berita bohong. Ayah saya memang sangat tertarik dengan Damar Mabur. Bahkan kejadian yang dialaminya sama dengan Mas Fik di pondok ini, juga beliau kaitkan dengan keberadaan Damar Mabur. Serius menyelidikinya hingga keluar masuk hutan sana, yang konon, merupakan tempat tinggal Damar Mabur.” Aku sedikit menyesal telah menanyakan hal ini kepada Mas Bin. “Maaf, Mas. Kalau pertanyaan saya menyinggung hati Mas Bin.” “Tidak, tidak apa-apa. Saya maklum. Hmmm. Saya hanya menyesalkan kehadiran rumor ini saja. Oiya, mengenai Damar Mabur. Damar Mabur, artinya Cahaya Terbang. Memang mirip dengan cahaya yang kita temui tadi. Tapi, Damar Mabur lebih mengarah pada urban legend. Legenda yang beredar di masyarakat sini. Tentang makhluk halus yang bercahaya dan mempunyai kemampuan terbang. Ia memiliki sayap seperti serangga, tetapi bertubuh manusia dengan taring yang tajam. Kegemarannya adalah menghisap darah manusia. Sedangkan yang tadi… bukan. Saya yakin bukan makhluk halus. Entahlah. Saya lebih suka menghubungkannya secara ilmiah. Daripada menganggapnya makhluk halus, saya lebih suka menganggapnya hewan yang belum teridentifikasi oleh ilmu pengetahuan modern.” Aku kagum mendengarkan penjelasan Mas Bintoro. Hebat! Pemikiran yang unik! Masalahnya, konsep pemikiran kita tentang sesuatu yang belum diketahui atau sesuatu yang aneh, sudah diberangus oleh konsep-konsep acara mistis di televisi. Yang menjual kengerian dan rasa penasaran untuk dinikmati pemirsanya. Akibatnya, jika kita mendengar suara aneh atau melihat sekelebat bayangan di malam hari, kita langsung berpikir bahwa itu hantu, setan, yang lantas membuat hati kita menciut, dan akal sehat kita mengerut. Bukankah, bisa jadi, itu adalah suara benda yang jatuh, atau kelebat seekor kucing yang sedang mencari mangsa? “Ya betul, Mas Bintoro. Dulu, ketika Gorila masih belum familiar diketahui keberadaannya, ia juga merupakan salah satu hewan legenda. Katanya: manusia berbulu, bertaring tajam yang ganas, suka memakan manusia, dan menculik para wanita. Sekarang, bisa kita lihat faktanya. Gorila adalah sekelompok hewan penyendiri. Mereka bahkan tidak suka didekati oleh manusia. Dan, mereka adalah jenis hewan pemakan tumbuhan dan serangga. Bukan pemakan daging. Jadi, untuk apa mereka memakan manusia dan menculik para wanita?” Aku menimpali dengan antusias. “Ya. Itulah jika ketakutan yang berbicara. Makanya, sekarang, kita harus tetap berpikir tenang untuk mencari tahu tentang makhluk ini.” Tuk-tuk-tuk. Tuk-tuk-tuk. Suara ketukan itu. Aku dan Mas Bintoro terkisap. “Mainkan biola!” Bisik Mas Bintoro. Aku kebingungan mencari-cari biolaku. Begitu ketemu, aku langsung memainkannya. Lagu Desaku… Pet! Lampu mati! Keadaan menjadi gelap gulita. “Mas Bin??” Bisikku. “Lampu aku matikan dari pusat. Terus bermain! Aku akan buka pintu depan. Pancing ia masuk ke dalam rumah. Lalu, pancing masuk ke dalam kamar tidur. Bisa, kan?” Mas Bin setengah berseru dalam bisik. “Bisa!” Jawabku sok yakin. Greek… Pintu depan terbuka. Nada-nada merdu dari lagu Desaku mengalun memenuhi kegelapan. Terus kugesek biolaku setenang mungkin. Meski, hatiku berdegup-degup tegang dengan bumbu sedikit rasa takut. Tak ada yang terjadi. Lalu…. cahaya! Cahaya itu bergerak-gerak cepat dalam kegelapan pondok. Tenang…tenang….Allah…Allah… Batinku berkata. Perlahan, aku bergerak menuju kamarku. Aku hanya mengira-ngira saja jalannya. Sebab, aku masih baru di rumah ini. Semoga berhasil! Cahaya itu bergerak melambat dengan pola acak. Tetapi, ia mengikutiku. Terus….terus…terus mengikuti. BLAM! Suara pintu kamar ditutup. Cahaya itu seakan terkejut dengan suara keras pintu tadi. Ia terbang tak karuan dengan cepat ke segala arah. Aku terus memainkan biolaku. Tiba-tiba, lampu menyala kembali. Seluruh ruangan kamar kembali terang. Mataku mengerjap-ngerjap. Peralihan dari gelap ke terang membuat penglihatanku agak berkunang-kunang. “Mas Fik! Sudah dapat? Saya tidak berani membuka pintu! Takut dia lepas nanti.” Suara Mas Bintoro terdengar dari luar kamar. Prek-prek-prek…. Aku mendengar suara pelan. Segera, kuletakkan biolaku di atas kasur. Dan, di atas meja kayu di bawah jendela kamar, sesuatu tergeletak di sana. Makhluk itu. Ia tergolek terlentang di lantai. Nampak lemah dan rapuh. “Mas Bin, masuk! Aman!” Seruku. Mas Bintoro menyelinap di sela pintu kamar yang ia buka sesempit mungkin, lalu segera menghampiri aku. Kami berjongkok dan saling berpandangan. Di depan kami, ada seekor…atau sesosok…entah, kami sendiri tidak mengerti. Makhluk itu berukuran sepanjang genggaman tangan anak kecil. Di punggungnya tumbuh dua pasang sayap transparan seperti capung. Tubuhnya berwarna kecoklatan, kurus. Mirip ranting kecil yang kering. Kepalanya persis seperti kepala belalang. Namun, kedua matanya yang lebar lebih mirip bentuk mata kucing; berwarna kuning, dengan pupil hitam yang menyempit. Mata itu berkedip lemah. Tak berdosa. “Ya Allah…Masyaallah… Badannya mirip badan manusia, Mas!” Kataku heran, sekaligus merinding. Bagaimana bisa ada makhluk seperti ini? Yang membuat tubuh makhluk itu memiliki bentuk mirip manusia adalah karena ia memiliki sesuatu yang komposisinya mirip kedua tangan dan kaki manusia. Dengan jari-jari panjang seperti duri-duri tumpul. Sedangkan cahaya kekuningan yang berpendar dari tubuhnya sudah tidak nampak lagi. Mas Bintoro mengangguk, tanpa melepaskan pandangan dari hasil tangkapan kami. “Makhluk seperti ini pantasnya dikagumi, bukan malah ditakuti. Lihatlah bagaimana Allah mendesain ciptaanNya. Makanya, saya lebih suka melihat sesuatu berdasarkan sains. Sains yang akan mengantar kita memahami kebesaran Sang Pencipta.” Ia mengeluarkan handycam-nya untuk merekam sosok sosok ganjil ini tanpa berani menyentuhnya. Begitu pula aku. Awalnya, aku menyeringai ngeri melihat pemandangan ini. Tapi, semakin lama diperhatikan, makhluk ini semakin mengundang rasa belas kasihan. “Mas Bin, aku kok merasa dia ini tidak kuat kalau terkena cahaya terang. Aku akan matikan lampunya.” Aku berjalan ke arah saklar listrik kamar. Pet! Suasana kamar gelap gulita kembali. “Mas Taufik! Lihat! Pelan-pelan cahayanya bersinar lagi!” Seru Mas Bintoro. Ya, benar! Tak berapa lama kemudian, makhluk itu mencoba terbang. Awalnya, terseok-seok, namun selanjutnya, ia berhasil terbang ke sana kemari dengan lincah seperti semula. Krek! Aku membuka jendela kamarku lebar-lebar. Makhluk bercahaya kekuningan itu pun keluar, lalu menghilang ke dalam kegelapan malam. Mas Bintoro menghidupkan kembali lampu kamar. Ia tersenyum kepadaku. “Saya tadi juga berpikir begitu. Sebaiknya dilepas saja. Kasihan…” “Seandainya ayah Mas Bin bisa melihatnya, beliau pasti akan senang sekali.” Mas Bintoro tersenyum dengan mata sayu. “Ya, benar. Tapi, tidak apa-apa. Ayah pasti sudah menemukan kebahagiaannya sendiri di alam sana.” Kepalaku melongok keluar jendela, menatap langit malam yang bersih dari awan. “Malam ini cerah, Mas! Pemandangan di atas sana sangat bagus!” Mas Bintoro ikut melongokkan kepala keluar jendela. Memandang bintang-bintang yang bertaburan di langit gelap. “Mas Fik, tahu tidak. Belum tentu bintang-bintang yang kita lihat sekarang ini masih ada di tempatnya. Sebagian bintang-bintang itu sudah mati.” “Ha? Yang benar? Lalu, apa yang kita lihat sekarang ini?” “Itu hanyalah cahaya yang dipendarkan oleh bintang-bintang di masa lampau. Cahayanya menempuh jarak milyaran kilometer untuk sampai ke mata kita. Perjalanan cahaya itu membutuh waktu yang sangat-sangat lama. Bahkan, saking jauhnya, waktu yang dibutuhkan melebihi masa hidup sang bintang itu sendiri.” Aku menghela nafas panjang. Ya Allah, begitu dalam misteri ciptaanMu. Begitu luas IlmuMu. Tak pantaslah kami manusia berjalan di muka bumi dengan kepala tengadah dan hati yang congkak. “Dibandingkan alam semesta yang luas ini, kita manusia hanyalah setitik debu yang bodoh dan tidak tahu apa-apa. Benar, Mas Bin?” Gumamku. “Benar.” Jawab Mas Bintoro. Menghela napas panjang dan lega

Related Posts:

sedikit ttg Ramalan Jayabaya


polahe wong wong kaya gabah diinteri
endi sing bener endi sing sejati
para tapa padha ora wani
padha wedi ngajarake piwulang adi
salah-salah anemani pati


tingkah laku orang orang seperti gabah ditampi
mana yang benar mana yang asli
para pertapa semua tak berani
takut menyampaikan ajaran benar
salah-salah dapat menemui ajal


banjir bandang ana ngendi-endi
gunung njeblug tan anjarwani, tan angimpeni
gehtinge kepathi-pati marang pandhita kang oleh pati geni
marga wedi kapiyak wadine sapa sira sing sayekti

banjir bandang dimana-mana
gunung meletus tidak dinyana-nyana, tidak ada isyarat dahulu
sangat benci terhadap pendeta yang bertapa, tanpa makan dan tidur
karena takut bakal terbongkar rahasianya siapa anda sebenarnya


pancen wolak-waliking jaman
amenangi jaman edan
ora edan ora kumanan
sing waras padha nggagas
wong tani padha ditaleni
wong dora padha ura-ura
beja-bejane sing lali,
isih beja kang eling lan waspadha

sungguh zaman gonjang-ganjing
menyaksikan zaman gila
tidak ikut gila tidak dapat bagian
yang sehat pada olah pikir
para petani dibelenggu
para pembohong bersuka ria
beruntunglah bagi yang lupa,
masih beruntung yang ingat dan waspada



ratu ora netepi janji
musna kuwasa lan prabawane
akeh omah ndhuwur kuda
wong padha mangan wong
kayu gligan lan wesi hiya padha doyan
dirasa enak kaya roti bolu
yen wengi padha ora bisa turu

raja tidak menepati janji
kehilangan kekuasaan dan kewibawaannya
banyak rumah di atas kuda
orang makan sesamanya
kayu gelondongan dan besi juga dimakan
katanya enak serasa kue bolu
malam hari semua tak bisa tidur


sing edan padha bisa dandan
sing ambangkang padha bisa
nggalang omah gedong magrong-magrong

yang gila dapat berdandan
yang membangkang semua dapat
membangun rumah, gedung-gedung megah


wong dagang barang sangsaya laris, bandhane ludes
akeh wong mati kaliren gisining panganan
akeh wong nyekel bendha ning uriping sengsara

orang berdagang barang makin laris tapi hartanya makin habis
banyak orang mati kelaparan di samping makanan
banyak orang berharta namun hidupnya sengsara



wong waras lan adil uripe ngenes lan kepencil
sing ora abisa maling digethingi
sing pinter duraka dadi kanca
wong bener sangsaya thenger-thenger
wong salah sangsaya bungah
akeh bandha musna tan karuan larine
akeh pangkat lan drajat padha minggat tan karuan sebabe

orang waras dan adil hidupnya memprihatinkan dan terkucil
yang tidak dapat mencuri dibenci
yang pintar curang jadi teman
orang jujur semakin tak berkutik
orang salah makin pongah
banyak harta musnah tak jelas larinya
banyak pangkat dan kedudukan lepas tanpa sebab


bumi sangsaya suwe sangsaya mengkeret
sakilan bumi dipajeki
wong wadon nganggo panganggo lanang
iku pertandhane yen bakal nemoni
wolak-walike zaman

bumi semakin lama semakin sempit
sejengkal tanah kena pajak
wanita memakai pakaian laki-laki
itu pertanda bakal terjadinya
zaman gonjang-ganjing


akeh wong janji ora ditepati
akeh wong nglanggar sumpahe dhewe
manungsa padha seneng ngalap,
tan anindakake hukuming Allah
barang jahat diangkat-angkat
barang suci dibenci

banyak orang berjanji diingkari
banyak orang melanggar sumpahnya sendiri
manusia senang menipu
tidak melaksanakan hukum Allah
barang jahat dipuja-puja
barang suci dibenci



akeh wong ngutamakake royal
lali kamanungsane, lali kebecikane
lali sanak lali kadang
akeh bapa lali anak
akeh anak mundhung biyung
sedulur padha cidra
keluarga padha curiga
kanca dadi mungsuh
manungsa lali asale

banyak orang hamburkan uang
lupa kemanusiaan, lupa kebaikan
lupa sanak saudara
banyak ayah lupa anaknya
banyak anak mengusir ibunya
antar saudara saling berbohong
antar keluarga saling mencurigai
kawan menjadi musuh
manusia lupa akan asal-usulnya



ukuman ratu ora adil
akeh pangkat jahat jahil
kelakuan padha ganjil
sing apik padha kepencil
akarya apik manungsa isin
luwih utama ngapusi

hukuman raja tidak adil
banyak yang berpangkat, jahat dan jahil
tingkah lakunya semua ganjil
yang baik terkucil
berbuat baik manusia malah malu
lebih mengutamakan menipu

Related Posts:

Syair Ronggowarsito



Iki sing dadi tandane zaman kolobendu
Lindu ping pitu sedino
Lemah bengkah
Manungsa pating galuruh, akeh kang nandang lara
Pagebluk rupo-rupo
Mung setitik sing mari akeh-akehe pada mati
Zaman kalabendu iku wiwit yen,
Wis ana kreto mlaku tampo jaran
Tanah jawa kalungan wesi
Prau mlaku ing nduwur awang-awang
Kali ilang kedunge
Pasar ilang kumandange
Wong nemoni wolak-walik ing zaman
Jaran doyan sambel
Wong wadon menganggo lanang
Zaman kalabendu iku koyo-koyo zaman kasukan, zaman kanikmatan donya, nanging zaman iku sabenere zaman ajur lan bubrahing donya.
Mulane akeh bapak lali anak
Akeh anak wani ngalawan ibu lan nantang bapak
Sedulur pada cidro cinidro
Wong wadon ilang kawirangane, wong lanang ilang kaprawirane
Akeh wong lanang ora duwe bojo
Akeh wong wadon ora setia karo bojone
Akeh ibu pada ngedol anake
Akeh wong wadon ngedol awakke
Akeh wong ijol bojo
Akeh udan salah mongso
Akeh prawan tuwo
Akeh rondo ngalairake anak
Akeh jabang bayi nggoleki bapake
Wong wadon ngalamar wong lanang
Wong lanang ngasorake, drajate dewe
Akeh bocah kowar
Rondo murah regane
Rondo ajine mung sak sen loro
Prawan rong sen loro
Dudo pincang payu sangang wong
Zamane zaman edan
Wong wadon nunggang jaran
Wong lanang lungguh plengki
Wong bener tenger-tenger
Wong salah bungah-bungah
Wong apik ditapik-tampik
Wong bejat munggah pangkat
Akeh ndandhang diunekake kuntul
Wong salah dianggap bener
Wong lugu kebelenggu
Wong mulyo dikunjara
Sing culika mulya, sing jujur kojur
Para laku dagang akeh sing keplanggrang
Wong main akeh sing ndadi
Linak lijo linggo lica, lali anak lali bojo, lali tangga lali konco
Duwit lan kringet mug dadi wolak-walik kertu
Kertu gede dibukake, ngguyu pating cekakak
Ning mulih main kantonge kempes
Krugu bojo lan anak nangis ora di rewes
Abote koyo ngopo sa bisa-bisane aja nganti wong kelut,keliring zaman kalabendu iku. Amargo zaman iku bakal sirno lan gantine joiku zaman ratu adil, zaman kamulyan. Mula sing tatag, sing tabah, sing kukuh, jo kepranan ombyak ing zaman Entenana zamanne kamulyan zamaning ratu adil

Terjemahannya

Inilah yang menjadi tanda zaman kehancuran :
"Gempa bumi 7 kali dalam sehari,
Tanah pecah belah merekah,
Manusia pada berguguran,
banyak manusia yang ditimpa penyakit,
terjadi berbagai bencana,
dan hanya sedikit saja yang selamat,
kebanyakan meninggal.
Dan Jaman ini ditandai dengan :
Sudah ada kereta yang berjalan tanpa ditarik kuda.
(Kereta Api).
Tanah jawa dikelilingi oleh besi,
(
mungkin maksudnya rel kereta api).
Perahu bisa berjalan di atas awan (pesawatkah?).
Sungai-sungai kehilangan danaunya (diurug jadi perumahan)
Pasar kehilangan keramaiannya (diganti mall - Supermarket)
Manusia menemukan, jaman sudah serba terbalik,
Kuda doyan sambal,
perempuan mengenakan pakaian pria (juga sebaliknya),
Jaman "Kalabendu" itu,
mirip-mirip seperti jaman yang penuh kebahagiaan,
penuh dengan kenikmatan dunia,
namun sebenarnya jaman itu adalah jaman
kehancuran dan kekacauan dunia :
Banyak Bapak lupa sama anaknya (tidak peduli)
Banyak anak yang berani melawan ibu dan menantang bapaknya.
sesama saudara (kakak-beradik) saling berkelahi.
Kaum perempuan kehilangan rasa malunya,
dan kaum pria hilang kesatriaannya.
Banyak pria tidak menikah,
dan banyak wanita kehilangan kesetiaannya.
Banyak ibu yang menjual anaknya,
dan banyak wanita yang menjual dirinya.
Banyak orang yang tukar menukar pasangan.
Makin banyak perawan tua,
dan banyak janda yang melahirkan anak,
Banyak bayi lahir tanpa bapak,
kaum wanita melamar laki-laki,
kaum laki-laki merendahkan drajatnya sendiri.
Banyak anak lahir di luar nikah,
Janda sangat murah harganya,
nilainya hanya satu sen untuk 2 orang.
perawan pun harganya satu sen untuk 2.
Duda senilai harganya dengan 9 orang.

Jaman ini (
Kalabendu) adalah jaman Edan :
wanita menunggang kuda (
kerja keras?),
kaum pria duduk berpangku tangan.
Orang yang benar hanya bisa bengong,
orang yang salah berpesta pora.
Orang baik berusaha disingkirkan,
orang yang moralnya bejat malah naik pangkat.
Banyak komentar yang tidak ada isinya,
orang salah dianggap benar,
orang lugu/jujur malah terbelenggu.
yang salah dipuji dan dihormati,
orang jujur malah hancur.
Banyak pedagang yang menyimpang/curang.
Orang yang bermain judi semakin menjadi,
lupa anak lupa istri, lupa tetangga dan teman.
Uang dan keringat hanya untuk berjudi,
waktu pulang main, kantongnya kosong,
mendengar anak istri menangis tidak digubris.

Seberat apapun hidup,
jangan ikut larut dalam gejolak jaman Kalabendu.
karena jaman itu akan sirna,
dan diganti dengan jaman Ratu Adil,
jaman yang penuh dengan kemuliaan.
Karena itu : "Jadilah orang kokoh,
tegar dan tabah, serta jangan
melakukan hal-hal yang bodoh....!!"

Related Posts:

Sekilas tentang air zam zam dan khasiatnya


Tatkala Jibril memukul Zam-Zam dengan tumit kakinya, Ummi Ismail segera mengumpulkan luapan air. Nabi berkata,”Semoga Allah merahmati Hajar dan Ummu Ismail. Andai ia membiarkannya, maka akan menjadi mata air yang menggenangi (seluruh permukaan tanah).”
وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قاَلَ قَالَ رَسُوْلُ الله – صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: “خَيْرُ مَاءٍ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ مَاءُ زَمْزَمَ، فِيْهِ طَعَامُ الطَّعْمِ، وَشِفَاءُ السَّقْمِ”،
“Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Sebaik-baik air yang terdapat di muka bumi adalah Zam-Zam. Di dalamnya terdapat makanan yang mengenyangkan dan penawar penyakit.”
Abu Dzar al Ghifari berkata,”Selama 30 hari, aku tidak mempunyai makanan kecuali air Zam-Zam. Aku menjadi gemuk dan lemak perutku menjadi sirna. Aku tidak mendapatkan dalam hatiku kelemahan lapar.”
: كُنْتُ أُجَالِسُ ابْنَ عَبَّاسٍ بِمَكَّةَ فَأَخَذَتْنِيْ الحْمُىَ فَقَالَ أَبْرِدْهَا عَنْكَ بِمَاءِ زَمْزَمَ فإَِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ( الْحُمَى مِنْ فيَحْ ِجَهَنَّمَ فَأَبْرِدُوهَا بِالْمَاءِ أَوْ قاَلَ بِمَاءِ زَمْزَمَ ) .
“Dari Hammam, dari Abi Jamrah ad-Duba`i, ia berkata : “Aku duduk bersama Ibnu ‘Abbas di Mekkah, tatkala demam menyerangku. Ibnu ‘Abbas mengatakan, dinginkanlah dengan air Zam-Zam, karena Rasulullah mengatakan, sesungguhnya demam adalah dari panas Neraka Jahannam, maka dinginkanlah dengan air atau air Zam-Zam” [15]
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا : أَنَّهَا كَانَتْ تَحْمِلُ مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ وَتُخْبِرُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ كاَنَ يَحْمِلُهُ
Dari ‘Aisyah, ia membawa air Zam-Zam. Ia mengkabarkan, sesungguhnya dahulu Rasulullah membawanya (sebagai bekal-Pen.).
Ibnul Qayyim berkata,”Aku dan selain diriku telah megalami perkara yang ajaib tatkala berobat dengan air Zam-Zam. Dengan izin Allah, aku telah sembuh dari beberapa penyakit yang menimpaku. Aku juga menyaksikan seseorang yang telah menjadikan air Zam-Zam sebagai makanan selama beberapa hari, sekitar setengah bulan atau lebih. Ia tidak mendapatkan rasa lapar, ia melaksanakan thawaf sebagaimana manusia yang lain. Ia telah memberitahukan kepadaku bahwa, ia terkadang seperti itu selama empat puluh hari. Ia juga mempunyai kekuatan untuk berjima’, berpuasa dan melaksanakan thawaf “.

Demikian sekilas tentang air Zam-Zam dan khasiatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan kepada kita dan membenarkan khasiat dan keutamaan air yang tak pernah kering tersebut, meskipun setiap hari diambil oleh banyak manusia. Dengan mengetahui secara sepintas air Zam-Zam ini, maka hendaknya dapat meningkatkan dan memperkuat sandaran dan ketergantungan kita kepada Allah. Dia-lah yang Maha Penguasa mengatur segala yang Ia kehendaki.


Related Posts:

Lirik Lagu Sebujur Bangkai-Rhoma Irama





Badan pun tak berharga sesaat ditinggal nyawa
Anak isteri tercinta tak sudi lagi bersama

Secepatnya jasad dipendam
Secepatnya jasad dipendam
Karena tak lagi dibutuhkan
Diri yang semula dipuja
Kini bangkai tak berguna

Dari kamar yang indah kasur empuk tilam putih
Kini harus berpindah terkubur dalam perut bumi

Kalau selama ini diri berhiaskan
Emas intan permata bermandi cahaya
Tetapi kali ini di dalam kuburan
Gelap pekat mencekam tanpa seorang teman

Terputuslah pergaulan
Terbujurlah sendirian
Diri terbungkus kain kafan

Wajah dan tubuh indah yang dulu dipuja-puja
Kini tiada lagi orang sudi menyentuhnya

Jadi santapan cacing tanah
Jadi santapan cacing tanah
Sampai yang tersisa kerangka
Begitulah suratan badan
Ke bumi dikembalikan

Kebanyakan manusia terlena sehingga lupa
Bahwa maut kan datang menjelang

Related Posts:

Cerita Pendek Aji TBSL


Udara dingin malam ini membuatku cepat sekali mengantuk.
Diatas dipan kecil kurebahkan tubuhku. Seperti biasa aku tidur tanpa baju,hanya memakai sarung saja.Sambil memejamkan mataku,aku membaca TBSL.Sebuah kalimat penjagaan diri agar tak diganggu oleh kejahatan2,baik yg dilakukan manusia atau sebangsa jin.
Tak berapa lama diantara tidur dan jaga,aku didatangi seorang wanita cantik berbau harum.
Aku yakin tubuhnya yg mengeluarkan keharuman,bukan dari
pakaiannya yg memakai parfum.

Wanita itu mendekatiku perlahan.
Aku mau bangkit dari posisi rebahku tapi tak bisa.Seolah ada beban berat yg memaksaku telentang.
Kucoba sekuat tenaga untuk bangkit lagi tetapi tetap tak bisa juga.
Wanita itu semakin dekat kepembaringanku.Sekali lagi kukerahkan tenagaku,tapi tetap tak bisa juga.Malah tubuhku tak bisa kugerakkan
sama sekalihilang segenap kekuatanku.Aku pasrah saja pada apa yg terjadi,Entah apa yg hendak dilakukan wanita cantik yg tiba2
muncul,tanpa kuketahui darimana asalnya.
Hanya mataku saja yg terus menatap pada wanita cantik itu.
Wanita itu memakai baju terusan putih agak
tipis,seperti baju tidur,membayang dua gunung kembar didadanya.
Wanita cantik itu berdiri disamping kananku seraya tersenyum manis.
Harum tubuhnya terasa sekali setelah wanita itu mendekat.Keharuman yg
aneh.

"Saya tahu siapa kamu...dan untuk apa kamu berada disini..."
wanita itu setengah berbisik ketelingaku.

Aku hendak menyahuti wanita itu,tapi aku tak bisa berkata2.Suaraku seolah tersekat ditenggorokan.Wanita cantik itu duduk dipembaringan disebelah kananku.
Matanya yg tajam menatap mataku dalam2,seolah ingin menembus hatiku.Seolah ingin masuk keragaku.

Tatapan matanya terus saja memandangi wajahku,kemudian perlahan beralih kedadaku yg telanjang,terus sampai kekakiku,seperti menaksir kekuatanku.
Risih sekali rasanya dipandangi wanita cantik dalam keadaanku sekarang,yg tak bisa bergerak.Hanya mataku saja yg terus memandangi kelakuan siwanita cantik itu.

"Kamu cukup kuat untuk memakai ajian ini...dan kamu akan menjadi ahli
dalam ilmu ini..." wanita itu bangkit dari duduknya dipembaringanku.

"Tapi kamu harus memperdalam lagi aji TBSL itu...Tahukah kamu
siapa khadam aji TBSL...Itulah aku..." bisiknya.
 Tiba tiba Wanita cantik itu berputar putar dihadapanku.Saking cepatnya berputar hanya berupa bayangan saja yg kuliat.Mataku sampai nanar menatap putaran bayangan wanita itu.

Tiba2 bayangan itu berhenti berputar.Dihadapanku berdiri seorang
perempuan cantik yg tadi tapi sekarang berjilbab putih dengan
busana panjang seperti pakaian perempuan sholehah,terlihat anggun
dan berwibawa.
Ditangan kanannya tergantung tasbih biji pukah berukuran sebesar kancing baju. Perempuan itu lalu memegang kepalaku.

"Bangunlah...!" katanya.
Seketika aku bisa bangun dan duduk dihadapan perempuan
itu.Lalu aku duduk bersila dgn menyilangkan kaki kanan diatas kaki kiri.Tangan kanan bersatu dg tangan kiri ditengah persilangan kaki.


" Aku harap aji TBSL ini tidak kau salah gunakan,karna siapa yg mampu menguasai ilmu ini,dunia dlm genggamannya..." kata perempuan itu penuh
wibawa.

Sekedip mataku kemudian perempuan itu menghilang digelap malam.Tinggallah aku sendiri memaknai kejadian itu.

Related Posts:

Puisi "Sepenggal Cerita Pagi"


Pagi yg ranum dalam geliat kesejukan embun.
Kusapa sudut hatiku.
Masihkah kau bermain dalam otakku.
Lembaran hari mencibirkan senyum.
Aku hanya tertawa dalam seribu tanya.
Tak lebih.
Pagiku masih ranum.
Matahari masih menyapaku dalam damai.
kesejukan embun pagi membelaiku dengan pelukan kelembutannya.
Bidadariku.
Putri impianku.
Sepenggal cerita di pagi buta.
Bukan ilusi penghias hari.
bmasin,31122011

Related Posts:

Puisi "Rindu"


Kini rinduku terlunta lunta.
Dalam penantian yg
semakin diam.
Ditirai malam kesendirian.
Wajah kuyu ini kupaksa
tersenyum. Untuk penghias sepi jiwa
tanpamu. Karena aku tetap
memujamu meski cabikan
nyata dan sorot mata
terus mengawasimu.
Dan kau tak bergerak
mengusap helai helai dahaga.
Balikpapan,25102011

Related Posts:

Puisi "Kita"


Mengalirlah perlahan kemuara.
Dari titian waktu yg kadang cemburu dan ingin membunuh.
Dari kalimat sangkala menegur ombak.
Menghantam kisi kisi hati.
Lalu lamat menepi rohku di penghujung keabadian.
Adalah cinta dibibirku yg manis,bersarang didadamu.
Mengalirlah perlahan kemuara.
Pertemuan dari wujud kesakralan jiwa.
Aku dan kamu seiring menahan laju musim.
Sungai itu adalah kamu.
Tempat pemandian terahirku.
Dengan kemilau kejernihan.
Bukan laut yg menghimpit fir’aun.
Bukan laut yg menenggelamkan titanic.
Mengalirlah perlahan kemuara.
Balikpapan,01112011.

Related Posts:

Puisi "Tukung 2"


Lintasan kidung dibibirmu membahana sepanjang jingga pantai.
Renyah mengurai makna mistery.
Aku melipat kediaman.
Trotoar bisu mengemban gumpalan kalimat cakrawala.
Senja mempesona.
Buliran merah saga dibalik awan putih lembut.
Belaian angin meredam keluh.
Kucipta butiran asa padamu.
Disini.
Aku kembali berbaur pada pasir,ombak dan kaki telanjang gadis kota.
Seraya kuseka keringat yg mengalir bagai hujan.
Pulau itu seperti dulu,tak berubah dan masih sendiri.
Berdiri dijajaran kemilau ombak dan cahaya bahtera.
Balikpapan,21112011

Related Posts:

Puisi "Tukung"


Sepasang bulan redup mengitari pelangi.
Bergandengan menuju remang malam.
Awan perak dibalik rimba meruncing.
Peri kecil memainkan sayapnya.
Saat itu kita bertemu,disini.
Memadukan khayalan tentang sunset petang.
Kau pernah berkata padaku “ketinting kita terlalu kecil untuk menyeberang”
aku punya seribu puisi,sedang kau punya satu hati.
Tapi aku takluk padamu.
Karena siangmu yg benderang.
Dan akulah malam penyanjung misteri diatas pulau tukung.
Hampir saja hujan melarikan hembusan nafasku.
Sedang kita belum bertemu.
Balikpapan 31122011

Related Posts:

Puisi "Ternyata Kau Disini"




Ternyata kau disini.
Dalam setiap hurup yg kutulis
Dalam setiap renung yg kuarung.
Kutahu ada senyum nan gemilang menyambuti malam.
Meski kau tetap membenarkan pikiranmu sendiri.
Meski telah kau robek argumen sepi.
yang mengembang hingga rindupun terlantar.
Terpuruk mencumbu nalar.
Apalah aku olehmu sayang.
Mungkin hanya seonggok daging dalam kulkas.
Bisa diremukkan mesin penggilas.
Aku tak bisa menjual pahala seperti mereka.
Pdf kosong dan presentasi bodong.
Aku tak punya kedok dan bermuka muka.
Untuk apa bermanja manja.
Sajakku terurai buat hati.
Mereka yg terusir dari surgawi.
Lebih baik kukasih saja pada semesta.dengan cuma cuma
Hingga langit terbuka.merinai tawa.
Daripada kumakan segala luka.Orang terhimpit tak berdaya.
Karena bukan itu tujuanku disini.
karena ternyata engkau disini.

Related Posts:

Puisi "Suatu Pagi Didesaku"


Diseberang pelataran
Kau berdiri angkuh
Tanganmu mengepal nasib
Hampir tak ada senyum dan lagu
Apalagi puisi itu 
Telah kau lempar dalam dalam
Hingga tangisan yg biasa merdu
Kini terdengar seperti derit roda kereta yg lapuk.
Dan senyum kecut sisais.

Menarik beribu beban sayuran .
Kotoran kuda
Kita adalah sama.
Diantara derap langkahnya.
Aku dan gilaku adalah satu.
Tak beda.Kau dan angkuhmu.Tak lain

"Meski aku masih dibalut sangsi.
Diapit Riuh derapmu hentakkan pagi
Sumbu yg pudar
Nyala pelita jiwa tercemar
Malamku robek misteri.
Kupagut kau dalam sunyi
Sedangkan angkuhmu kugauli
Basah lidahku mengecup manismu
Tak sabar ingin kutuntaskan nikmatku
Dan yang kutau
Begitu indahnya rupamu.
Seperti sunyi yg kupuja
Atau puisi yg kueja.

8 aoril 2016.

Related Posts:

Puisi "Lelaki Harus Berlayar"



Mencemooh gelombang dan badai.
Menerkam angin dan menggilas desiran.
Hingga kau tau makna sebuah kerinduan.

Bukan pada tiap bait puisi yg  jalang.
Atau rima yg perlahan memudar.
Karena perahu tak jua sampai.
Titik embun terbakar pagi.
Lalu hilang terserap sepi.

Lelaki harus berlayar.
Tak peduli jiwa terbakar.
Pada anggurmu yg kerap tertebar.

Bukan seperti waktu yg berlari.
Menebas ironi lalu mati.
Atau sebatas kenangan lalu.
Sebentar kau buang kala layu.

Lelaki harus tahu diri.
Merapal mantra diatas puisi.
Bukan basa basi.
Menerobos ilalang pagar suci.
Lelaki harus terus berlayar.
Arungi setiap aral.
Meski perih dalam sesat terjal.


Balikpapan 15052016



Related Posts: